Tips Menyusun Latar Belakang Masalah yang Kuat dan Terarah
Simak cara menyusun latar belakang skripsi yang kuat dan terarah, mulai dari fenomena, data pendukung, penelitian terdahulu, hingga research gap.
Latar belakang masalah merupakan salah satu bagian penting dalam karya ilmiah, terutama proposal penelitian dan skripsi. Bagian ini berfungsi menjelaskan konteks, permasalahan, serta alasan mengapa suatu penelitian perlu dilakukan.
Latar belakang yang baik tidak hanya berisi kumpulan informasi. Setiap pembahasan perlu disusun secara logis dan saling berkaitan, sehingga pembaca dapat memahami bagaimana suatu fenomena akhirnya mengarah pada masalah penelitian.
Latar belakang yang kuat membawa pembaca dari fenomena atau masalah yang terjadi hingga memahami alasan penelitian perlu dilakukan.
Apa Fungsi Latar Belakang Masalah?
Latar belakang memberikan konteks mengenai topik yang diteliti sekaligus menjelaskan urgensi atau alasan penelitian tersebut dilakukan.
Melalui bagian ini, pembaca diharapkan dapat memahami apa yang sedang terjadi, masalah apa yang muncul, apa yang telah diteliti sebelumnya, dan mengapa penelitian baru masih diperlukan.
Karena itu, penyusunan latar belakang sebaiknya tidak dilakukan secara acak. Ada alur yang dapat digunakan agar pembahasan lebih mudah dipahami.
Urutan Menyusun Latar Belakang Masalah
1. Mulai dari Fenomena atau Masalah yang Terjadi
Langkah pertama adalah menjelaskan fenomena atau masalah yang berkaitan dengan topik penelitian.
Fenomena dapat berupa kondisi, perubahan, perilaku, atau permasalahan yang menarik untuk dikaji. Pada tahap ini, jelaskan terlebih dahulu konteks permasalahan secara umum sebelum masuk ke pembahasan yang lebih spesifik.
Pastikan fenomena yang dipilih memang berkaitan dengan topik penelitian dan memiliki alasan yang jelas untuk dikaji.
2. Tambahkan Data Pendukung
Setelah menjelaskan fenomena, perkuat pembahasan menggunakan data pendukung seperti angka, laporan, atau hasil penelitian.
Data dapat membantu menunjukkan bahwa fenomena yang dibahas memang terjadi dan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Gunakan sumber yang kredibel, seperti laporan lembaga resmi, jurnal ilmiah, hasil survei, atau sumber akademik lain yang relevan.
📌 Tips: Jangan hanya mengatakan bahwa suatu masalah “banyak terjadi”. Tunjukkan data atau sumber yang dapat memperkuat pernyataan tersebut.
3. Jelaskan Dampak Jika Masalah Tidak Diselesaikan
Setelah menunjukkan fenomena dan data pendukung, jelaskan mengapa masalah tersebut penting untuk diperhatikan.
Salah satu caranya adalah dengan menjelaskan dampak atau konsekuensi yang dapat muncul apabila masalah tersebut tidak ditangani atau dikaji lebih lanjut.
Bagian ini membantu menunjukkan urgensi penelitian dan membuat pembaca memahami mengapa topik tersebut layak untuk diteliti.
4. Bahas Penelitian Terdahulu yang Relevan
Selanjutnya, cari dan bahas penelitian terdahulu yang relevan dengan topik penelitian.
Penelitian terdahulu dapat digunakan untuk mengetahui apa yang sudah dibahas oleh peneliti lain, bagaimana penelitian sebelumnya dilakukan, serta apa saja hasil yang telah ditemukan.
Jangan hanya mencantumkan banyak penelitian. Pilih penelitian yang benar-benar memiliki hubungan dengan masalah yang sedang dibahas.
5. Temukan Research Gap
Setelah memahami penelitian terdahulu, lihat kembali apa yang masih kurang, belum terjawab, atau belum banyak dibahas. Bagian inilah yang disebut sebagai research gap.
Research gap merupakan celah dalam penelitian sebelumnya yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Celah tersebut dapat berupa pertanyaan yang belum terjawab, perbedaan hasil penelitian, keterbatasan penelitian, atau konteks tertentu yang belum banyak dikaji.
Research gap = celah penelitian yang belum terjawab. Menemukan research gap membantu menunjukkan mengapa penelitian baru masih diperlukan.
6. Jelaskan Alasan Penelitian Dilakukan
Setelah menunjukkan research gap, arahkan pembahasan pada alasan penelitian perlu dilakukan.
Jelaskan bagaimana penelitian yang akan dilakukan dapat menjawab atau mengisi celah yang telah ditemukan. Pada bagian ini, kamu juga dapat mulai menunjukkan kontribusi atau novelty dari penelitian.
Novelty tidak selalu berarti menemukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Kebaruan dapat berasal dari perspektif, metode, variabel, teori, objek, konteks, maupun kombinasi tertentu yang memberikan kontribusi berbeda.
Namun, perlu diingat bahwa mengganti lokasi, waktu, atau objek penelitian saja belum tentu otomatis menjadi novelty. Kebaruan perlu memiliki dasar yang jelas dari kajian penelitian terdahulu.
Research gap menunjukkan apa yang masih kurang, sedangkan novelty menunjukkan kontribusi baru yang ditawarkan untuk mengisi celah tersebut.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Terlalu Banyak Membahas Definisi
Definisi konsep memang dapat digunakan dalam karya ilmiah, tetapi latar belakang sebaiknya tidak dipenuhi oleh definisi dari berbagai sumber.
Fokus utama latar belakang adalah membangun alasan mengapa penelitian perlu dilakukan.
Menggunakan Data Tanpa Sumber
Data yang digunakan untuk mendukung fenomena harus memiliki sumber yang jelas. Hindari menggunakan angka atau informasi tanpa mengetahui asal sumbernya.
Penelitian Terdahulu Hanya Dijadikan Daftar
Mencantumkan banyak penelitian terdahulu tidak otomatis membuat latar belakang menjadi kuat. Penelitian tersebut perlu dibandingkan dan dihubungkan dengan masalah yang sedang diteliti agar dapat membantu menemukan research gap.
Tidak Menunjukkan Research Gap
Jangan berhenti setelah menjelaskan penelitian terdahulu. Tunjukkan apa yang masih belum terjawab atau belum dikaji dari penelitian-penelitian tersebut.
Mengklaim Novelty Tanpa Dasar
Hindari menyebut penelitian memiliki kebaruan hanya karena menggunakan objek atau lokasi yang berbeda. Novelty perlu didukung oleh kajian terhadap penelitian terdahulu dan memiliki kontribusi yang jelas.
Antarparagraf Tidak Saling Berkaitan
Setiap paragraf sebaiknya memiliki hubungan dengan pembahasan berikutnya. Hindari memasukkan informasi yang menarik tetapi tidak memiliki kaitan dengan masalah penelitian.
Tips agar Latar Belakang Lebih Terarah
Sebelum mulai menulis, kamu bisa membuat kerangka sederhana berdasarkan urutan berikut:
Fenomena atau masalah → data pendukung → dampak → penelitian terdahulu → research gap → alasan penelitian dilakukan.
Urutan tersebut membantu pembahasan bergerak secara bertahap dari masalah yang terjadi menuju alasan mengapa penelitian perlu dilakukan.
Semakin jelas hubungan antara fenomena, data, penelitian terdahulu, research gap, dan alasan penelitian, semakin mudah pembaca memahami urgensi penelitianmu.
Kesimpulan
Latar belakang masalah yang kuat tidak hanya berisi informasi mengenai suatu topik, tetapi memiliki alur pembahasan yang logis dan terarah.
Mulailah dengan menjelaskan fenomena atau masalah yang terjadi, kemudian berikan data pendukung, jelaskan dampaknya, dan hubungkan dengan penelitian terdahulu yang relevan. Setelah itu, temukan research gap dan gunakan celah tersebut untuk menjelaskan alasan serta kontribusi penelitian yang akan dilakukan.
Dengan alur tersebut, latar belakang dapat membantu pembaca memahami apa masalahnya, apa yang sudah diteliti, apa yang masih belum terjawab, dan mengapa penelitian baru perlu dilakukan.