Publish 10 Sep 2026 · Tim Submitin id

Apa Itu Self-Plagiarism? Kenali Penyebab dan Cara Menghindarinya

Kenali apa itu self-plagiarism, penyebabnya, serta cara menghindari penggunaan kembali karya sendiri yang tidak sesuai dengan aturan akademik.

Ilustrasi mahasiswa menggunakan kembali karya tulis lama dalam penulisan akademik

Plagiarisme umumnya dikaitkan dengan penggunaan karya orang lain tanpa mencantumkan sumber. Namun, dalam penulisan akademik terdapat bentuk lain yang juga perlu diperhatikan, yaitu self-plagiarism.

Penggunaan kembali karya sendiri tidak selalu berarti bebas dari persoalan integritas akademik. Dalam kondisi tertentu, penggunaan ulang materi dari karya sebelumnya perlu disertai pengungkapan atau atribusi yang sesuai.

Apa Itu Self-Plagiarism?

Self-plagiarism atau plagiarisme diri terjadi ketika seseorang menggunakan kembali bagian substansial dari karya yang pernah dibuat atau dipublikasikan sebelumnya tanpa memberikan pengungkapan atau atribusi yang sesuai, terutama ketika karya tersebut diperlakukan sebagai karya baru.

Meskipun materi tersebut berasal dari karya sendiri, penggunaannya kembali tetap perlu memperhatikan aturan akademik, ketentuan tugas, serta kebijakan publikasi yang berlaku.

Self-plagiarism bukan berarti “menjiplak karya orang lain”, tetapi penggunaan kembali karya sendiri tanpa pengungkapan atau atribusi yang sesuai.

Mengapa Self-Plagiarism Bisa Terjadi?

1. Menggunakan Tugas Lama

Mahasiswa mungkin menggunakan kembali sebagian atau seluruh bagian dari tugas yang pernah dibuat untuk tugas baru tanpa memberi tahu dosen atau menyesuaikannya dengan ketentuan tugas.

Hal ini dapat menjadi persoalan apabila tugas baru diharapkan merupakan karya yang dibuat secara khusus untuk mata kuliah atau keperluan tertentu.

2. Menggunakan Kembali Publikasi

Penulis juga dapat menggunakan kembali bagian dari karya yang telah dipublikasikan dalam karya baru tanpa memberikan pengungkapan yang sesuai.

Dalam publikasi ilmiah, penggunaan kembali materi dapat berkaitan dengan kebijakan jurnal, hak cipta, serta ketentuan mengenai publikasi sebelumnya. Karena itu, penulis perlu memeriksa aturan yang berlaku sebelum menggunakan kembali materi dari karya terdahulu.

3. Tidak Memahami Aturan

Salah satu penyebab self-plagiarism adalah anggapan bahwa menggunakan karya sendiri tidak mungkin dianggap sebagai masalah.

Padahal, aturan mengenai penggunaan kembali karya dapat berbeda-beda, tergantung pada institusi, jenis tugas, jurnal, dan bentuk publikasinya.

Karena itu, penting untuk memahami ketentuan yang berlaku sebelum menggunakan kembali tulisan dari karya sebelumnya.

Bagaimana Cara Menghindari Self-Plagiarism?

Periksa Aturan Tugas atau Jurnal

Sebelum menggunakan kembali materi dari tulisan sebelumnya, periksa terlebih dahulu aturan yang ditetapkan oleh dosen, kampus, atau jurnal.

Pastikan penggunaan kembali karya memang diperbolehkan dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Jangan Menggunakan Kembali Tulisan Lama Secara Sembarangan

Hindari menyalin bagian dari tugas atau karya sebelumnya begitu saja untuk digunakan dalam karya baru.

Jika memang perlu menggunakan materi tersebut, pertimbangkan apakah materi tersebut perlu ditulis ulang, dijelaskan kembali, atau disertai pengungkapan yang sesuai.

Berikan Pengungkapan atau Atribusi Jika Diperlukan

Jika penggunaan kembali karya sebelumnya diperbolehkan, berikan pengungkapan atau atribusi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Hal ini membantu pembaca mengetahui bahwa sebagian materi atau gagasan berasal dari karya yang telah dibuat atau dipublikasikan sebelumnya.

Gunakan Kembali Gagasan dengan Memperhatikan Konteks

Gagasan dari karya sebelumnya dapat menjadi dasar untuk mengembangkan tulisan baru. Namun, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan konteks dan tujuan karya yang sedang dibuat.

Jangan menganggap bahwa mengganti beberapa kata dari tulisan lama sudah cukup untuk menjadikannya karya baru.

Kunci menghindari self-plagiarism adalah transparansi. Ketahui aturan yang berlaku, hindari penggunaan ulang secara sembarangan, dan lakukan pengungkapan jika memang diperlukan.

Apakah Menggunakan Karya Sendiri Selalu Termasuk Self-Plagiarism?

Tidak selalu. Penggunaan kembali materi dari karya sendiri perlu dilihat berdasarkan konteks dan aturan yang berlaku.

Misalnya, seseorang mungkin diperbolehkan mengembangkan penelitian sebelumnya menjadi penelitian lanjutan dengan mencantumkan informasi mengenai karya terdahulu. Sebaliknya, menggunakan kembali tugas lama untuk tugas baru tanpa pemberitahuan dapat bertentangan dengan ketentuan akademik tertentu.

Karena itu, tidak ada satu aturan yang berlaku untuk semua situasi. Selalu periksa kebijakan dari institusi, dosen, atau jurnal yang bersangkutan.

Kesimpulan

Self-plagiarism menunjukkan bahwa persoalan integritas akademik tidak hanya berkaitan dengan penggunaan karya orang lain. Penggunaan kembali karya sendiri juga perlu dilakukan secara transparan dan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Self-plagiarism dapat terjadi ketika seseorang menggunakan kembali bagian substansial dari karya sebelumnya tanpa pengungkapan atau atribusi yang sesuai, terutama ketika karya tersebut diperlakukan sebagai karya baru.

Untuk menghindarinya, periksa ketentuan tugas atau publikasi, hindari menggunakan kembali tulisan lama secara sembarangan, serta berikan pengungkapan atau atribusi jika diperlukan.

← Kembali ke blog